Junk Food Sehat atau Tidak ?
0 Comments
Junk food saat ini bisa jadi makanan yang sangat digemari dan menjadi makanan sehari-hari yang dikonsumsi , tetapi apakah anda tahu bahaya junk food ???
1. Junk Food mengandung kalori yang berlebih
Makanan
merupakan bahan bakar bagi tubuh kita. Ia memiliki dampak langsung pada
kesehatan tubuh secara keseluruhan. Junk food kebanyakan merupakan
makanan cepat saji yang didalamnya mengandung karbohidrat, gula, lemak
sehat, dan garam (natrium). Satu porsi junk food menawarkan sejumlah
besar kalori, akan tetapi nilai gizi di dalamnya hanya sedikit atau
bahkan tidak ada sama sekali.
Sebuah studi 2013 yang diterbitkan di
JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa banyak anak-anak dan remaja yang lebih
memilih mengambil resiko mendapatkan kalori lebih dalam makanan cepat
saji dan restoran daripada makanan yang disajikan di rumah. Menurut
National Institutes of Health, beberapa makanan cepat saji secara
keseluruhan hanya mengandung kalori dalam jumlah yang tinggi, di mana
hal tersebut sangat berdampak pada kelebihan berat badan yang merupakan
salah satu faktor peningkatan risiko untuk berbagai masalah kesehatan
kronis.
Terlalu sering mengkonsumsi makanan
cepat saji untuk menggantikan makanan bergizi dapat menyebabkan gizi
buruk serta kesehatan yang buruk bagi kita.
2. Resiko penyakit diabetes
Salah satu faktor utama yang menyebabkan
terjangkitnya penyakit diabetes adalah karena diet yang tidak sehat,
salah satunya karena makanan yang kita konsumsi merupakan makanan
sampah. Ketika tubuh menyerap asupan gizi dari yang berasal dari makanan
sehat, hal ini berarti tubuh mendapatkan pasokan glukosa yang membantu
menjaga sensitivitas insulin. Sedangkan ketika tubuh menyerap asupan
makanan junk food, hal ini bisa mengakibatkan stres yang berlebihan
pada metabolisme tubuh sehingga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk
menggunakan insulin dengan benar. Karena junk food tidak memiliki
kandungan serat, konsumsi secara langsung menghasilkan lonjakan kadar
gula. Selanjutnya, konsumsi junk food menyebabkan obesitas, salah satu
alasan utama untuk resistensi insulin dan pengembangan diabetes.
3. Masalah pada sistem pencernaan
Bagi para pecandu junk food, mereka akan
lebih beresiko mengalami gangguan pencernakan seperti penyakit
gastroesophageal reflux (GERD) dan sindrom iritasi usus (IBS). Seperti
yang kita ketahui bahwa junk food lebih banyak mengandung kalori
daripada nilai nutrisi. Saat kita mengkonsumsi junk food yang digoreng,
kandungan minyaknya akan tersimpan dalam dinding lapisan perut. Hal ini
dapat meningkatkan produksi asam. Lalu rempah-rempah yang ada di
dalamnya dapat mengiritasi lapisan lambung, sehingga dapat memperburuk
resiko GERD dan gangguan pencernakan. Kurangnya serat dalam kandungan
junk food dapat menghambat pencernaan, meningkatkan masalah seperti
sembelit dan wasir.
4. Kelelahan dan kelemahan
Junk food tidak memiliki jumlah nutrisi
penting yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan serta fungsi dari
semua sistem dalam tubuh secara keseluruhan seperti protein dan vitamin.
Meskipun jenis makanan ini bisa membuat perut terasa kenyang dan puas,
namun ia gagal dalam memberikan asupan energi instan. Sehingga membuat
tubuh terasa lemah dan lelah beberapa saat setelah mengkonsumsinya. Jika
tubuh hanya menyerap semua jenis makanan yang tergolong junk food
selama periode waktu tertentu, maka hal tersebut bisa mengakibatkan
kelelahan kronis. Junk food dapat menurunkan tingkat energi tubuh ke
tingkat yang mungkin menjadikan tubuh sulit atau bahkan tidak bisa
melakukan rutinitas sehari-hari.
5. Depresi
Akibatterlalu sering mengkonsumsi junk
food, banyak perubahan hormonal terjadi, terutama pada kalangan remaja,
yang membuat mereka rentan terhadap perubahan suasana hati dan perubahan
perilaku. Karena mengkonsumsi junk food dapat menyebabkan kekurangan
nutrisi penting dalam tubuh, yang meningkatkan kemungkinan para remaja
menderita depresi hingga 58%. Diet yang sehat akan sangat berperan
penting dalam menjaga keseimbangan hormonal.
Selain itu. kandungan dalam makanan
cepat saji seperti garam, daging olahan, nitrat, dan MSG dapat memicu
terjadinya sakit kepala. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Gizi
Kesehatan Masyarakat menunjukkan bahwa makan makanan yang dipanggang
seperti donat, croissant, kue dan makanan cepat saji seperti pizza,
hamburger, hot dog) mungkin berhubungan dengan depresi. Orang yang makan
makanan cepat saji adalah 51 persen lebih mungkin mengembangkan depresi
dibandingkan mereka yang makan sedikit atau tidak ada makanan cepat
saji.
6. Fluktuasi kadar gula dalam darah
Mengkonsumsi junk food yang tidak
mengandung kadar gula yang tinggi dapat membuat metabolisme dalam tubuh
mengalami stress. Gula menyebabkan pankreas mengeluarkan jumlah insulin
yang lebih banyak untuk mencegah lonjakan drastis kadar gula dalam
darah. Karena junk food tidak memiliki kandungan karbohidrat dan protein
yang cukup, jangan heran jika kadar gula dalam darah menurun secara
tiba-tiba setelah kita mengkonsumsi junk food. Hal ini membuat kita
gampang emosi dan timbul keinginan untuk mengkonsumsi junk food dalam
porsi berlebih.
7. Mempengaruhi fungsi otak
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di
jurnal Brain, Behavior, and Immunity menunjukkan bahwa satu minggu makan
junk food sudah cukup untuk memicu gangguan memori pada tikus.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lemak jahat (lemak trans) dari junk
food cenderung menggantikan lemak sehat di otak dan mengganggu
mekanisme sinyal normal dalam otak. Studi pada hewan juga menunjukkan
bahwa lemak dari junk food memperlambat kemampuan untuk belajar
keterampilan baru.
8. Peningkatan resiko penyakit jantung
Kandungan dalam Junk food sarat akan
lemak jenuh dan lemak trans yang secara langsung meningkatkan kolesterol
jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah, dimana hal tersebut dapat
berkontribusi terhadap pembentukan plak dan penyakit jantung. Selain
itu, mengkonsumsi junk food dapat menyebabkan lonjakan gula garah yang
meningkat secara tiba-tiba, junk food merusak lapisan-lapisan pembuluh
darah yang menyebabkan peradangan kronis. Peradangan ini menyebabkan
kolesterol jahat menempel pada dinding arteri dan menghalangi aliran
darah ke jantung, sehingga serangan jantung pun kapan saja bisa
terjadi. Lemak dari junk food dapat terakumulasi dalam tubuh selama
periode waktu tertentu yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Dalam
kondisi berat badan yang semakin meningkat, resiko terkena serangan
jantung akan lebih tinggi.
9. Peningkatan resiko gangguan ginjal
Saat kita mengkonsumsi junk food seperti
kentang goreng maupun keripik yang rasanya begitu memanjakan lidah,
tanpa kita sadari kandungan garam halus yang ada didalamnya dapat
meningkatkan air liur dan sekresi enzim, sehingga meningkatkan keinginan
untuk terus mengkonsumsi makanan ini. Kandungan lemak jahat dan natrium
yang tinggi dari garam tersebut mampu mengganggu keseimbangan
sodium-potasium tubuh yang dapat menyebabkan hipertensi. Hal ini dapat
mengganggu fungsi ginjal sebagai penyaring semua racun dari darah.
10. Merusak hati
Mengkonsumsi junk food selama periode
waktu tertentu dapat memiliki efek yang merugikan pada organ hati, hal
ini serupa dengan efek yang ditimbulkan pada seorang pecandu alkohol.
Sebuah studi menunjukkan bahwa seseorang yang lebih sering mengkonsumsi
junk food dan menjauhi olahraga memiliki perubahan enzim hati dalam
waktu empat minggu. Perubahan ini serupa dengan yang diamati pada orang
dengan penyalahgunaan alkohol. Menurut beberapa penelitian, hal itu
dikarenakan terjadinya pengendapan lemak trans yang ditemukan dalam
sejumlah junk food di organ hati sehingga menyebabkan disfungsi pada
organ tersebut.
